GOODBYE HAPPINES
“Kriiiinnnnngggg....
Krinnngggg... Kriiinnnngggg” (Jam waker berbunyi)
Pagi ini aku terbangun dengan mata
yang sembab seperti malam biasanya, mimpi ini selalu datang mengusik tidur
nyenyakku. Entah apa yang terjadi kepadaku, tetapi hal ini selalu datang
kepadaku. Disaat aku sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukanku selama
ini.
“ Ciaaaaa bangun nak.”
(Suara Ibu sambil mengetuk pintu)
“ Iya Ibu, Sila sudah
bangun.”
“
Yasudah cepat mandi, bekal sarapanmu sudah siap.” (Meninggalkan kamar)
“Iya Ibu”
∞15 menit berlalu~
“ Ciaa, sudah siap belum?”
“ Sudah Ibu.” (Berjalan
menuju ruang makan)
“ Sila, kenapa dengan matamu?”
“
Tidak kenapa-kenapa bu, Sila hanya lupa memakai obat mata tadi malam.” (Menghindar dari tatapan ibu)
“
Yakin? Apa kamu habis menangis?”
“Tidak
Ibu. Sila berangkat ya bu. Trimakasih bekalnya, Assallamu’alaikum.” (Mencium pipi Ibu lalu pergi)
Mengawali pagi hari ini dikampus. Tetapi hari ini tidak seperti hari biasanya. Lorong,
koridor, ruangan sepi dan sunyi. Entah aku datang terlalu pagi atau mungkin
hari ini hanya kelas mata kuliahku yang ada dosen. Namun yasudahlah aku tidak
ingin memikirkan itu.
Akan tetapi ditempat yang sesunyi ini
aku malah terbayang sosok laki-laki itu lagi. Laki-laki yang aku sayang namun
menghianati perasaan ini lalu pergi tanpa permisi dari kehidupanku.
“TINK.” Salah satu tokoh dari cerita yang kita suka dulu. Yaitu,
Peter Pen. Yang membuat ia memanggilku dengan sebutan “tink.”.
Panggilan geli namun membuatku nyaman dan bahagia.
Seperti baru kemarin rasanya, ia
datang menghampiriku dan mengatakan selamat pagi sambil memberi kotak nasi yang
didalamnya terdapat bentuk animasi. Makanan yang ia masak sendiri untukku,
karna ia tahu kalau aku jarang sarapan dirumah. Dan biasanya selesai makan hal
yang sering kita lakukan adalah bernyayi bersama. Kita yang saling suka musik,
ia yang bermain gitar dan aku yang bernyanyi. Bernanyi bersama, berteriak tidak
jelas lalu tertawa kecil. Namun hal itu sudah sirna dihadapanku, hanya angin
berlalu dan kenangan indah yang sakit bila diingat, namun selalu teringat
detail difikiranku. Mungkin aku seperti orang bodoh yang masih menunggu kabar
darinya dan menunggu ia kembali mengisi duniaku.
“ Ciaaaaa.......”
Terdengar seseorang memanggilku yang
menyadarkanku dari lamunan itu. Suara yang tidak asingku dengar, saat aku
menoleh kebelakang. “Asiikkk.” Ia adalah arya. Orang yang selama ini selalu ada disampingku,
mencoba membuatku tersenyum disaat aku sedang terpuruk,namun sulit bagiku untuk
memunafikkan perasaan ini bahwa aku sesunggunya tidak bisa tersenyum. Arya sudah
seperti pangeran jatuh dari langit, aku tidak begitu tau latar belakang ia
seperti apa, yang aku tahu iya adalah seorang Fhotograph.
“ Ciiiaaaaaa
sepertinya dosen tidak datang pagi ini? Jalan ayo, udah lama kamera gue gaada
muka lo.” ( Bertingkah seperti anak
kecil).
“
Gemesin dah, hunting LAGI?”
“
Hehe, ayooooooooo kita berangkat. Kota Tua menanti Tingkerbelle yang imut ini.”
“ (Hanya tersenyum dan menangguk)”
∞KOTA TUA
“ Ciaaaaaa....”
“ ( menengok kepada
Arya)”
“
Aku ingin kamu menjadi pusat imajinasiku, dimana kamu tidak seperti ini, aku
ingin kamu tersenyum tulus walaupun aku tahu setelah kita 3 tahun bersama. Kamu
masih belum bisa bangkit dari keterpurukkan itu. Aku mohon?”
Aku hanya
membalas itu semua dengan senyuman hangat seperti biasanya.
“ Aku ingin
beginiii,,,kamu ingin begitu,, ini-ini-itu pusing sekali”( suara handphone
berdering)
“ Arya? Kamu mendengar
sesuatu tidak?”
“ Ehhh, sorry itu nada dering handphone gua. Nanti ya!”
∞∞∞
“
Ciaaa? Maaf, kayanya aku tidak bisa menemani kamu seharian ini. Temanku menelfon
ada mata kuliah tambahan hari ini. Maaf sekali Cia? ( dengan raut wajah tidak tega ). Aku janji deh, besok akan aku teraktir kamu dikantin
sepuasnya oke?”
“
Ia. Tidak apa-apa ko Arya. Lagian aku ingin langsung pulang saja. Oke aku
pegang janjimu!”
∞DIRUMAH
“ Ah. Aku lupa tugas
MR. Christian.”
Aku pun lanngsung membuka leptop lalu mengetik
menyelesaikan tugas dengan hati tidak tenang.
“ huuuuuffttttt....
Akhirnya”
Aku langsung berjalan ke tempat tidur. Hati ini susah untuk
memejamkan mata, gundah sekali rasanya. Dan tiba-tiba.
“ Dringgggggg....dringgg” ( handphone
berdering)
Air mataku tiba-tiba jatuh membasahi
pipiku. Setelah mendengar kabar itu, akupun langsung menju rumah sakit Cipto
Kusumo.
Sesampainya disana ia sudah tertidur
kaku dengan balutan perban dikepalanya. Rasanya waktu memang jahat dan tidak
adil kepadaku, baru tadi sore kita bertemu, namun sekarang ia sudah seperti ini
dengan luka dimana-mana.
“
Kami tidak bisa menjelaskan secara detail karna masih dalam proses untuk
mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun benturan dikepala membuat
beberapa saraf dan pembuluh darah diotaknya terganggu. Namun, efek yang kita
temukan, pasien menagalami distorsi memori” (
Ucap dokter)
Aku duduk dengan tangan mengepal. Sekujur tubuhku tegang. Penjelasan
dokter yang tidak pasti membuat seluruh tubuku terasa lemas.
Sudah berhari-hari ia dirawat.
Kamar pasien ini terasa senyap. Hanya terdengar suara jarum
jam yang berdetak dan bunyi alat-alat rumah sakit.
Aku menarik nafas dan memutuskan pergi kesuatu tempat yaitu
apartemen Arya.
Aku membuka pintu yang berdebu. Debu menumpuk dimana-mana,
ruangan itu terasa begitu kosong dan gelap. Diruangan inilah Arya banyak
menghabiskan waktunya. Tidur, belajar, makan, mengotak-atik kameranya, dan
banyak kegiatan yang dapat aku bayangkan dengan mudah.
Arya memang aneh. Ia yang senang dengan Fotografi, namun aku
tidak perna melihat hasil foto ia dulu. Dan Arya yang tiba-tiba datang dalam
kehidupanku,mencoba membahagiakanku namun aku tidak pernah tahu asal-usul ia
seperti apa.
Aku menatap buku lebar dan kamera yang tergeletak disalah
satu rak buku. Buku berwarna coklat tua itu begitu menarik perhatianku. Kubuka halaman
pertama dan langsung tercekat.
Buku itu adalah sebuah album sederhana. Di halaman pertama,
terapat foto Arya dengan keluarga kandungnya. Arya masih sangat kecil,
tersenyum dan terlihat bahagia. Sepotong kertas kecil tertempel disana “My Lost Happines” Begitu pesan yang
tertulis.
Kubuka halaman berikutnya, mataku melebar, kusentuh foto
yang tertempel. Disana terdapat 2 orang laki-laki yang tidak asing lagi kulihat.
Senyumnya, rambut berantakkannya dan berdirinya.
Tiba-tiba dua tetes air mata jatuh membasahi foto itu. “Sahabat Kecilku.” , begitu pesan yang
tertempel disana. Salah satu orang difoto itu adalah orang yang sangat aku
kenal, yang meninggalkanku begitu saja. Ya, ia adalah Adit! Yang ternyata
sahabat kecil Arya. Yatuhan ada apa semua ini.
Foto-foto halaman berikutnya berisi pemandangan yang sangat
mengejutkan yaitu peti mati. Pesan-pesan itu tertulis sangat rapih, membuatku
tidak mampu berkata-kata.
“ Gua
seneng lo bisa lulus dan melanjutkan kuliah di Seoul. Dan cita-cita lo jadi
sutradara terwujud. Tapi kenapa lo gabilang. Lo punya penyakit kanker Dit! Lo belum
ketemu lagi sama Cia, Cia masih nunggu lo dari dulu. Maafin gua Dit, gua gabisa
disamping lo saat lo kesakitan. Tapi gua janji bakal jagain Cia, sebagai mana
lo jaga dan bahagiain dia dulu. Gua janji Dit! 22 MARET 2012. Yang tenang dialam sana Dit.....”
Tiba-tiba tetes air mata jatuh membasahi foto itu. Kuhapus air
mata itu dengan hati-hati. Aku membungkan mulutku, menahan isak tangisku yang
mulai terdengar. Kata-kata yang palingku ingat dari Adit yaitu;
“
Tink... sebelum nanti kamu sakit karna dilupakan, mending kamu pergi dari aku. Just stay away from me,Tink. Hate me as
much as you can. Cause unlike the story.. you’re not the one who going to die.”
Badanku kaku, lemas sekali rasanya. Adit yang sangat aku
sayang, ia malah benar-benar pergi dari dunia ini, namun tetap ia tidak akan
pernah hilang dalam hati dan fikiran ini.
Dunia memang tidak adil padaku. Dan mengapa Arya tidak
memberi tahuku dari dulu.
Akupun langsung pergi kembali kerumah sakit. Dan akan aku
munafikkan ini semua kepada Arya, dan akan kutanyakan nanti, bukan sekarang.
Yang aku inginkan sekarang hanya arya seperti dulu, sehat,
ceria dan menemani hari-hariku.
“
And Adit. Thank’s you for all the advanture that you gave for me. For all the
beautifull memory that you made. I’ll never regret all the momen that l spent
with you. I will never forget you. My Peter
Pan. Aditya.”
Ucap
Sila dalam hati. Merelakan waktu berjalan sebagaimana mestinya.
xxx
Tidak ada komentar:
Posting Komentar