Jumat, 22 Mei 2015

Goodbye Happiness'Cerpen

GOODBYE  HAPPINES

“Kriiiinnnnngggg.... Krinnngggg... Kriiinnnngggg” (Jam waker berbunyi)
          Pagi ini aku terbangun dengan mata yang sembab seperti malam biasanya, mimpi ini selalu datang mengusik tidur nyenyakku. Entah apa yang terjadi kepadaku, tetapi hal ini selalu datang kepadaku. Disaat aku sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukanku selama ini.
          “ Ciaaaaa bangun nak.” (Suara Ibu sambil mengetuk pintu)
          “ Iya Ibu, Sila sudah bangun.”
“ Yasudah cepat mandi, bekal sarapanmu sudah siap.” (Meninggalkan kamar)
          “Iya Ibu”
∞15 menit berlalu~
          “ Ciaa, sudah siap belum?”
          “ Sudah Ibu.” (Berjalan menuju ruang makan)
          “ Sila, kenapa dengan matamu?”
“ Tidak kenapa-kenapa bu, Sila hanya lupa memakai obat mata tadi malam.” (Menghindar dari tatapan ibu)
“ Yakin? Apa kamu habis menangis?”
“Tidak Ibu. Sila berangkat ya bu. Trimakasih bekalnya, Assallamu’alaikum.” (Mencium pipi Ibu lalu pergi)
         



Mengawali pagi hari ini dikampus. Tetapi  hari ini tidak seperti hari biasanya. Lorong, koridor, ruangan sepi dan sunyi. Entah aku datang terlalu pagi atau mungkin hari ini hanya kelas mata kuliahku yang ada dosen. Namun yasudahlah aku tidak ingin memikirkan itu.
          Akan tetapi ditempat yang sesunyi ini aku malah terbayang sosok laki-laki itu lagi. Laki-laki yang aku sayang namun menghianati perasaan ini lalu pergi tanpa permisi dari kehidupanku.
          “TINK.” Salah satu tokoh dari cerita yang kita suka dulu. Yaitu, Peter Pen. Yang membuat ia memanggilku dengan sebutan “tink.”. Panggilan geli namun membuatku nyaman dan bahagia.
          Seperti baru kemarin rasanya, ia datang menghampiriku dan mengatakan selamat pagi sambil memberi kotak nasi yang didalamnya terdapat bentuk animasi. Makanan yang ia masak sendiri untukku, karna ia tahu kalau aku jarang sarapan dirumah. Dan biasanya selesai makan hal yang sering kita lakukan adalah bernyayi bersama. Kita yang saling suka musik, ia yang bermain gitar dan aku yang bernyanyi. Bernanyi bersama, berteriak tidak jelas lalu tertawa kecil. Namun hal itu sudah sirna dihadapanku, hanya angin berlalu dan kenangan indah yang sakit bila diingat, namun selalu teringat detail difikiranku. Mungkin aku seperti orang bodoh yang masih menunggu kabar darinya dan menunggu ia kembali mengisi duniaku.
          “ Ciaaaaa.......”
          Terdengar seseorang memanggilku yang menyadarkanku dari lamunan itu. Suara yang tidak asingku dengar, saat aku menoleh kebelakang. “Asiikkk.” Ia adalah arya. Orang yang selama ini selalu ada disampingku, mencoba membuatku tersenyum disaat aku sedang terpuruk,namun sulit bagiku untuk memunafikkan perasaan ini bahwa aku sesunggunya tidak bisa tersenyum. Arya sudah seperti pangeran jatuh dari langit, aku tidak begitu tau latar belakang ia seperti apa, yang aku tahu iya adalah seorang Fhotograph.
“ Ciiiaaaaaa sepertinya dosen tidak datang pagi ini? Jalan ayo, udah lama kamera gue gaada muka lo.” ( Bertingkah seperti anak kecil).
“ Gemesin dah, hunting LAGI?”


“ Hehe, ayooooooooo kita berangkat. Kota Tua menanti Tingkerbelle yang imut ini.”
(Hanya tersenyum dan menangguk)
∞KOTA TUA
          “ Ciaaaaaa....”
          “ ( menengok kepada Arya)”
“ Aku ingin kamu menjadi pusat imajinasiku, dimana kamu tidak seperti ini, aku ingin kamu tersenyum tulus walaupun aku tahu setelah kita 3 tahun bersama. Kamu masih belum bisa bangkit dari keterpurukkan itu. Aku mohon?”
Aku hanya membalas itu semua dengan senyuman hangat seperti biasanya.
“ Aku ingin beginiii,,,kamu ingin begitu,, ini-ini-itu pusing sekali”( suara handphone berdering)
          “ Arya? Kamu mendengar sesuatu tidak?”
          “ Ehhh, sorry itu nada dering handphone gua. Nanti ya!”
∞∞∞
“ Ciaaa? Maaf, kayanya aku tidak bisa menemani kamu seharian ini. Temanku menelfon ada mata kuliah tambahan hari ini. Maaf sekali Cia? ( dengan raut wajah tidak tega ). Aku janji deh, besok akan aku teraktir kamu dikantin sepuasnya oke?”
“ Ia. Tidak apa-apa ko Arya. Lagian aku ingin langsung pulang saja. Oke aku pegang janjimu!”
∞DIRUMAH
          “ Ah. Aku lupa tugas MR. Christian.”
          Aku pun lanngsung membuka leptop lalu mengetik menyelesaikan tugas dengan hati tidak tenang.

          “ huuuuuffttttt.... Akhirnya”
Aku langsung berjalan ke tempat tidur. Hati ini susah untuk memejamkan mata, gundah sekali rasanya. Dan tiba-tiba.
 “ Dringgggggg....dringgg” ( handphone berdering)
          Air mataku tiba-tiba jatuh membasahi pipiku. Setelah mendengar kabar itu, akupun langsung menju rumah sakit Cipto Kusumo.
          Sesampainya disana ia sudah tertidur kaku dengan balutan perban dikepalanya. Rasanya waktu memang jahat dan tidak adil kepadaku, baru tadi sore kita bertemu, namun sekarang ia sudah seperti ini dengan luka dimana-mana.
“ Kami tidak bisa menjelaskan secara detail karna masih dalam proses untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun benturan dikepala membuat beberapa saraf dan pembuluh darah diotaknya terganggu. Namun, efek yang kita temukan, pasien menagalami distorsi memori” ( Ucap dokter)
Aku duduk dengan tangan mengepal. Sekujur tubuhku tegang. Penjelasan dokter yang tidak pasti membuat seluruh tubuku terasa lemas.
Sudah berhari-hari ia dirawat.
Kamar pasien ini terasa senyap. Hanya terdengar suara jarum jam yang berdetak dan bunyi alat-alat rumah sakit.
Aku menarik nafas dan memutuskan pergi kesuatu tempat yaitu apartemen Arya.
Aku membuka pintu yang berdebu. Debu menumpuk dimana-mana, ruangan itu terasa begitu kosong dan gelap. Diruangan inilah Arya banyak menghabiskan waktunya. Tidur, belajar, makan, mengotak-atik kameranya, dan banyak kegiatan yang dapat aku bayangkan dengan mudah.
Arya memang aneh. Ia yang senang dengan Fotografi, namun aku tidak perna melihat hasil foto ia dulu. Dan Arya yang tiba-tiba datang dalam kehidupanku,mencoba membahagiakanku namun aku tidak pernah tahu asal-usul ia seperti apa.

Aku menatap buku lebar dan kamera yang tergeletak disalah satu rak buku. Buku berwarna coklat tua itu begitu menarik perhatianku. Kubuka halaman pertama dan langsung tercekat.
Buku itu adalah sebuah album sederhana. Di halaman pertama, terapat foto Arya dengan keluarga kandungnya. Arya masih sangat kecil, tersenyum dan terlihat bahagia. Sepotong kertas kecil tertempel disana “My Lost Happines” Begitu pesan yang tertulis.
Kubuka halaman berikutnya, mataku melebar, kusentuh foto yang tertempel. Disana terdapat 2 orang laki-laki yang tidak asing lagi kulihat. Senyumnya, rambut berantakkannya dan berdirinya.
Tiba-tiba dua tetes air mata jatuh membasahi foto itu. “Sahabat Kecilku.” , begitu pesan yang tertempel disana. Salah satu orang difoto itu adalah orang yang sangat aku kenal, yang meninggalkanku begitu saja. Ya, ia adalah Adit! Yang ternyata sahabat kecil Arya. Yatuhan ada apa semua ini.
Foto-foto halaman berikutnya berisi pemandangan yang sangat mengejutkan yaitu peti mati. Pesan-pesan itu tertulis sangat rapih, membuatku tidak mampu berkata-kata.
“ Gua seneng lo bisa lulus dan melanjutkan kuliah di Seoul. Dan cita-cita lo jadi sutradara terwujud. Tapi kenapa lo gabilang. Lo punya penyakit kanker Dit! Lo belum ketemu lagi sama Cia, Cia masih nunggu lo dari dulu. Maafin gua Dit, gua gabisa disamping lo saat lo kesakitan. Tapi gua janji bakal jagain Cia, sebagai mana lo jaga dan bahagiain dia dulu. Gua janji Dit! 22 MARET 2012. Yang tenang dialam sana Dit.....”
Tiba-tiba tetes air mata jatuh membasahi foto itu. Kuhapus air mata itu dengan hati-hati. Aku membungkan mulutku, menahan isak tangisku yang mulai terdengar. Kata-kata yang palingku ingat dari Adit yaitu;
“ Tink... sebelum nanti kamu sakit karna dilupakan, mending kamu pergi dari aku. Just stay away from me,Tink. Hate me as much as you can. Cause unlike the story.. you’re not the one who going to die.”

Badanku kaku, lemas sekali rasanya. Adit yang sangat aku sayang, ia malah benar-benar pergi dari dunia ini, namun tetap ia tidak akan pernah hilang dalam hati dan fikiran ini.
Dunia memang tidak adil padaku. Dan mengapa Arya tidak memberi tahuku dari dulu.
Akupun langsung pergi kembali kerumah sakit. Dan akan aku munafikkan ini semua kepada Arya, dan akan kutanyakan nanti, bukan sekarang.
Yang aku inginkan sekarang hanya arya seperti dulu, sehat, ceria dan menemani hari-hariku.
“ And Adit. Thank’s you for all the advanture that you gave for me. For all the beautifull memory that you made. I’ll never regret all the momen that l spent with you. I will never forget you. My Peter Pan. Aditya.”
Ucap Sila dalam hati. Merelakan waktu berjalan sebagaimana mestinya.


xxx